Sejarah dan Perkembangan Fintech di Indonesia

Bagikan:Share on FacebookShare on Google+Tweet about this on TwitterShare on LinkedInPin on PinterestShare on Tumblr

Perkembangan Fintech IndonesiaTeknologi finansial, atau yang biasa dikenal dengan FinTech, sedang ramai diperbincangkan dalam dunia keuangan Indonesia. Sebut saja efek digital yang melanda Indonesia. Teknologi digital terbarukan mendorong lahirnya model-model bisnis baru. Bisnis aplikasi berbasis Internet telah mendulang sukses dan membangun fondasi Indonesia. Kenal Gojek? Nah, Gojek adalah salah satu bisnis FinTech. Kini siapa yang tidak tahu Gojek dan dampaknya bagi masyarakat Indonesia?


Dikarenakan sama-sama merupakan bisnis aplikasi berbasis Internet, Gojek sering tercampur dengan usaha Fintech itu sendiri. Padahal Gojek bergerak di bidang transportasi, sedangkan usaha berbasis teknologi digital mencakup berbagai sektor seperti termasuk asuransi dan perhotelan. Teknologi digital juga telah memasuki dunia keuangan dan telah menjadi FinTech.

Apa itu FinTech? FinTech merupakan inovasi teknologi di bidang keuangan. Banyak di antara kita yang telah menikmati hasil FinTech. Contohnya: mobile banking, rekening ponsel, dan juga e-banking.


FinTech sendiri menggunakan teknologi dan software  untuk menyediakan layanan finansial yang lebih efisien. Secara global, FinTech telah bertumbuh pesat beberapa tahun terakhir. Setiap tahun, investasi global terhadap usaha FinTech terus melaju cepat. Menurut riset yang dilakukan oleh  Accenture, pada tahun 2013 investasi global melebihi 4 miliar dolar. Kemudian investasi naik melebihi 12 miliar dolar di tahun 2014 dan naik lagi melebihi 22 miliar dolar pada tahun 2015.

Baca Juga  Pengembangan Teknologi Autentikasi Wajah Apple

Di Indonesia sendiri, usaha FinTech terus bermunculan. Contohnya HaloMoney dan juga Modalku. Meski usaha FinTech Indonesia masih terilang muda, bank dan regulator sudah sigap dan ingin bekerja sama dengan usaha FinTech Indonesia. Modalku telah berkolaborasi dengan Bank Sinarmas contohnya.

Perkembangan Fintech Indonesia
Mengapa usaha FinTech sangat populer di Indonesia? Di bawah ini, kami  jabarkan beberapa alasannya:

  • Generasi muda yang lahir pada era Internet dan mulai dewasa menginginkan solusi cepat bagi permasalahan mereka sehari-hari. FinTech memudahkan persoalan mereka. Proses online biasanya lebih simpel dan cepat. Anggota generasi Y juga aktif menyelesaikan masalah mereka secra mandiri. Bila tidak ada solusi, mereka akan membangun usaha start-up dengan niat untuk memberikan solusi bagi masyarakat.
  • Pelaku FinTech Indonesia melihat kesuksesan bisnis berbasis teknologi digital seperti Gojek dan Uber. Mereka kemudian merasa terinspirasi membangun usaha digital di bidang keuangan. Jika orang lain bisa melakukannya, mengapa saya tidak?
  • Penggunaan software, teknologi, dan juga Big Data oleh FinTech. Usaha FinTech juga menggunakan data dari media sosial. Aktivitas media sosial, contohnya, dapat dijadikan bagian dari analisis risiko.
  • Usaha FinTech dianggap lebih fleksibel jika dibandingkan bisnis konvensional yang memiliki image lebih kaku.
  • Meluasnya penggunaan Internet danjuga smartphone, sehingga ada kebutuhan untuk melakukan transaksi keuangan secara online.

Usaha FinTech Indonesia juga dibantu oleh terbukanya bank dan juga regulator. Bank-bank Indonesia aktif mencari berbagai teknologi baru dan regulator melihat FinTech sebagai hal yang positif bagi Indonesia.

Baca Juga  Laptop Gaming Tiga Layar Razer


Jika ada yang bertanya: bukankah bank bunuh diri dengan bekerja sama dengan usaha FinTech? Justru malah sebaliknya.

FinTech memiliki image destruktif terhadap bidang perbankan. Padahal usaha FinTech dibentuk guna memberikan solusi bagi masyarakat, bukan merusak usaha. Bank tidak perlu merasa terancam karena usaha FinTech sudah seharusnya berkolaborasi dengan bank. Juga sebaliknya. Kolaborasi antara bank dan usaha FinTech Indonesia justru akan melebarkan jaringan layanan mereka. Tentunya hal ini juga akan berdampak positif bagi Indonesia, di mana penetrasi produk keuangan relatif rendah.

PR sekarang adalah menciptakan regulasi yang jelas bagi usaha FinTech agar konsumen tetap terlindungi. Regulasi juga menghindari terjadinya friksi antara usaha FinTech dan juga usaha konvensional.

Dengan fondasi yang kuat dan juga dukungan yang tepat, FinTech Indonesia tidak cukup menjadi berita hangat – tetapi akan berdampak positif bagi masyarakat Indonesia. Semoga artikel ini bermanfaat bagi Anda.

Bagikan:Share on FacebookShare on Google+Tweet about this on TwitterShare on LinkedInPin on PinterestShare on Tumblr
Artikel Terkait